Senin, 04 November 2019

Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya untuk menjaga lisan

Oleh: Jefri Aljumanatul Ali

Suatu hari sang nabi sedang menerangkan jalan-jalan kebaikan, yaitu tentang amalan apa saja yang bisa mengantarkan manusia ke surga. Sang nabi merinci banyak sekali amalan, hingga mengerucut pada amalan yang sedikit dengan pahala yang banyak.

Di penghujung wasiat sang nabi bersabda: “Maukah kalian kuberitahu kunci dari semua itu?’ Maksudnya beliau ingin memberitahu kunci segala kebaikan bagi orang yang tak sanggup mengamalkan ritual-ritual sunnah yang sangat banyak. ”Mau, wahai Rasulullah.” Jawab Mua’adz bin Jabal. Sang nabi lalu menunjukkan lidahnya seraya bersabda, “Jaga ini!”.

Muadz bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?”
Nabi menjawab, “Bagaimana kamu ini wahai Mu’adz! Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka dengan wajah yang tersungkur lebih dahulu adalah akibat dari buah lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Sungguh mengerikkan efek lisan ini, organ tak bertulang namun lebih tajam dari sebilah belati. Sayatannya tak meninggalkan luka fisik, tapi luka psikis yang sangat dalam. Dalam beberapa kasus sering berakhir dengan bunuh diri. Tak heran bila agama memberikan ancaman yang begitu berat bagi siapapun yang tak bisa menjaga lisannya.

Ancaman-ancaman tersebut memberi isyarat bahwa agama menginginkan masyarakat yang hidup harmoni, sehingga segala yang mengancam keharmonian tersebut diancam dengan hukuman berat, baik di dunia maupun di akhirat.

Hukuman di dunia berupa pengucilan bagi para tukang ghibah/gunjing dan di akhirat berupa penghapusan dan pemindahan amal sebagaimana yang tercantum pada hadits di atas dan hadits muflis (hadits tentang orang yang bangkrut pada hari kiamat).

Adapun tulisan, maka ia mengambil hukum lisan/ucapan.

Wallahu a’lam.

1 komentar: